Selasa, 08 Januari 2013

Asal-Usul Munculnya Aksara

Aksara diciptakan oleh manusia melalui sebuah kebudayaan.
Penemuan aksara sudah beribu tahun lamanya.
Penemuan aksara tersebut terungkap pada bukti-bukti
arkeologis.
Orang India mempercayai bahwa Ganesha adalah
pencipta tulisan. Hal tersebut bersumber pada cerita bahwa
Ganesha mematahkan gadingnya dan digunakan sebagai alat
tulis untuk menulis Kitab Veda. Orang Mesir mengganggap
Dewa Thoth menciptakan tulisan untuk Raja Thamus. Dari
uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok
bangsa tersebut menganggap pencipta tulisan adalah dewa
dan itu pun masih berupa gambar atau simbol.
Aksara baru terlihat jelas asalnya, yaitu dari tiga peradaban
dunia, yaitu lembah Sungai Nil, lembah Sungai Mesopotamia,
dan lembah Sungai Kuning di China. Di lembah sungai
Mesopotamia terdapat orang Sumena dengan aksara pakunya,
di lembah Sungai Nil orang Mesir mengenal aksara Hieroglif
diperkirakan ada pada 3000 tahun sebelum Masehi.

kalimat minor dan mayor

Kalimat Minor
ialah kalimat yang hanya mengandung satu unsur pusat atau inti kalimat.
Contoh kalimat:
1. Diam!
2. Pergi!
3. Amat mahal!
4. Yang baru!
5. Yang akan datang!
6. Sudah siap!


Kalimat Mayor
ialah kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur inti kalimat.
Contoh kalimat:
1. Ia mengambil buku itu.
2. Dia ada di dalam.
3. Kami pergi ke Padang.

unsur unsur drama

Unsur-Unsur Drama
1. Tata panggung : Tata panggung mampu menggambarkan
suasana dan tema drama. Misal tema
perang, tema kerajaan, dan sebagainya.
2. Tata lampu : Tata lampu mampu menghidupkan
suasana.
3. Tata busana : Busana/kostum yang dipakai sesuai tema
drama tersebut.
4. Tata Suara : Kejelasan suara sangat mendukung
lancar dan suksesnya pementasan drama.
5. Pemeran : Pemeran/pelaku mampu memerankan
tokoh-tokoh drama tersebut sesuai
dengan karakternya.

Mengindentifikasi Unsur Teks Drama

Aspek: Membaca
Standar Kompetensi:
7. Memahami teks drama dan novel remaja
Kompetensi Dasar:
7.1. Mengidentifikasi unsur intrinsik teks drama

Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun suatu karya
sastra dari dalam. Unsur intrinsik puisi yaitu unsur pembangun
puisi atau pembentuk puisi. Unsur intrinsik prosa yaitu unsur
pembentuk prosa. Demikian juga dengan drama yang meliputi
hal-hal berikut.
1. Latar/setting : Tempat dan waktu terjadinya peristiwa.
2. Alur/plot : Jalan ceritanya.
3. Pemeran : Pemeran utama dan pemeran pembantu.
4. Dialog : Percakapan antartokoh.
5. Akting/gaya : Gerakan/perbuatan/gerak laku yang
dilakukan pemain-pemainnya.
6. Tema : Pokok cerita.

Berikut ini disajikan teks drama, kemudian dapat
diidentifikasikan unsur intrinsiknya.

Teks drama
Judul : Joko TARUB
Pelaku : 1. Joko Tarub
2. Nyai Tarub
Di Desa Tarub, hiduplah seoerang janda bernama Nyai Tarub
dengan anaknya bernama Joko Tarub. Joko Tarub suka berburu
di hutan lebat yang tidak jauh dari rumahnya. Pada suatu hari,
Joko Tarub pergi ke hutan dengan membawa tulup, senjata
kesayangannya. Meskipun sudah berkali-kali ibunya
melarangnya pergi, Joko Tarub masih saja pergi ke hutan. Hingga
matahari hampir tenggelam, Joko Tarub belum juga pulang. Nyai
Tarub menanti anaknya yang hanya seorang itu.

1. Nyai Tarub : (Keluar dari rumah, melihat ke arah hutan
sambil melihat ke kiri ke kanan mencari
anaknya).
Ruuub Taruuub, kemana saja anak ini. Ruub
Taruuub.
2. Joko Tarub : (Datang dari arah hutan dengan wajah berseriseri).
Buuu, Ibuu ... lihatlah aku membawa seekor
kinjeng.
3. Nyai Tarub : Aduuuuuh, anakku, kemana saja kamu.
Sudah berapa kali Ibu peringatkan jangan
bermain di hutan lagi, hutan itu angker.
kalau kau hilang di sana, siapa yang
menemani Ibu.
4. Tarub : Uuuuh, di sana banyak kupu dan kinjeng
besar-besar Bu. Kinjengnya bermacammacam,
lihatlah ada bintik kuning di
kepalanya.
5. Nyai Tarub : Itu bukan kinjeng, itu bang-bang erang
kuning.
6. Joko Tarub : Bagus ya Bu, bang-bang erang kuning ini,
di hutan ada yang berwarna merah. Besok
aku akan mencari lagi dengan tulup ini.
7. Nyai Tarub : Hus! Jangan masuk hutan lagi. Ayo pulang
hari sudah gelap.
(Nyai Tarub menarik lengan anaknya, supaya
masuk ke rumah.)

macam macam kata ulang

1. Kata Ulang Dwipurwa
yaitu ulangan atas  suku kata awal. Vokal dari suku kata awal mengalami pelemahan dan bergeser ke posisi tengah menjadi e pepet.
contoh:
tatanaman    >  tetanaman
tatangga       >  tetangga
luluhur          >  leluhur
lalaki            >  lelaki
luluasa          >  leluasa
titirah            >  tetirah


2. Kata Ulang Utuh
yaitu ulangan atas seluruh bentuk dasar.
Kata ulang utuh terbagi 2:
a. kata ulang dwilingga, ulangan atas bentuk dasar yang berupa kata dasar.
misalnya:
rumah-rumah
buah-buah
anak-anak

b. kata ulang kata jadian berimbuhan,  yaitu ulangan atas bentuk dasar berupa kata jadian berimbuhan
misalnya:
perbuatan > perbuatan-perbuatan
timbangan > timbangan-timbangan
pengumuman > pengumuman-pengumuman

3. Kata Ulang Dwilingga Salin Suara
yaitu ulangan yang terjadi atas seluruh suku kata, namun pada salah satu lingganya terjadi perubahan suara pada satu fonem atau lebih.
Contoh:
gerak-gerak > gerak-gerik
sayur-sayur > sayur-mayur
porak-porak > porak-parik
tegap-tegap > tegap-begap


4. Kata Ulang Berimbuhan
yaitu ulangan yang mendapat imbuhan baik pada lingga pertama maupun pada lingga kedua.
Misalnya:
bermain-main
berjalan-jalan
berpukul-pukulan
gunung-gemunung
tarik-menarik

frasa

Kalimat terdiri atas beberapa satuan. Satuan-satuan tersebut terdiri
atas satu kata atau lebih. Satuan pembentuk kalimat tersebut menempati
fungsi tertentu. Fungsi yang dimaksud yaitu Subjek (S), Predikat (P), Objek
(O), Pelengkap (Pel.), dan Keterangan (Ket.).
Fungsi-fungsi tersebut boleh ada atau tidak dalam suatu kalimat.
Fungsi yang wajib ada yaitu subjek dan predikat. Fungsi dalam kalimat
dapat terdiri atas kata, frasa, maupun klausa. Frasa adalah satuan yang
terdiri atas dua kata atau lebih yang menduduki satu fungsi kalimat.
Contoh:
Dua orang mahasiswa baru itu sedang membaca buku di perpustakaan.
Perhatikan penjabaran fungsi kalimat di atas!
Dua orang mahasiswa sedang membaca di perpustakaan.
S P Ket. tempat
Kalimat di atas terdiri atas tiga frasa yaitu dua orang mahasiswa, sedang
membaca, dan di perpustakaan.
Jadi, frasa memiliki sifat sebagai berikut.
1. Frasa terdiri atas dua kata atau lebih.
2. Frasa selalu menduduki satu fungsi kalimat.
A. Kategori Frasa
1. Frasa Setara dan Frasa Bertingkat
Sebuah frasa dikatakan setara jika unsur-unsur pembentuknya
berkedudukan sederajat atau setara.
Contoh:
Saya dan adik makan-makan dan minum-minum di taman depan.
Frasa saya dan adik adalah frasa setara sebab antara unsur saya
dan unsur adik mempunyai kedudukan yang setara atau tidak
saling menjelaskan. Demikian juga frasa makan-makan dan minum-minum
termasuk frasa setara. Frasa setara ditandai oleh adanya
kata dan atau atau di antara kedua unsurnya. Selain frasa setara,
ada pula frasa bertingkat. Frasa bertingkat adalah frasa yang terdiri
atas inti dan atribut.
Contoh:
Ayah akan pergi nanti malam.
Frasa nanti malam terdiri atas unsur atribut dan inti.
2. Frasa Idiomatik
Perhatikan kata-kata bercetak miring berikut!
1) Dalam peristiwa kebakaran kemarin seorang penjaga toko
menjadi kambing hitam.
2) Untuk menyelamati saudaranya, keluarga Pinto menyembelih
seekor kambing hitam.
Kalimat 1) dan 2) menggunakan frasa yang sama yaitu frasa
kambing hitam. Kambing hitam pada kalimat 1) bermakna orang
yang dipersalahkan dalam suatu peristiwa , sedangkan dalam
kalimat 2) bermakna seekor kambing yang warna bulunya hitam .
Makna kambing hitam pada kalimat 1) tidak ada kaitannya
dengan makna kata kambing dan kata hitam. Frasa yang maknanya
tidak dapat dirunut atau dijelaskan berdasarkan makna kata-kata
yang membentuknya dinamakan frasa idiomatik.

langkah langkah wawancara

Langkah-langkah melakukan wawancara

1. Menetapkan tujuan wawancara
Sebelum wawancara dilakukan, perlu ditetapkan tujuan
wawancara. Penetapan tujuan ini dilakukan agar pertanyaan
yang kalian ajukan kepada narasumber bisa terarah pada
informasi yang kita butuhkan sehingga wawancara akan
berhasil.

2. Menyiapkan daftar pertanyaan
Wawancara adalah proses dialog antara orang yang mencari
informasi dengan orang yang memberikan informasi. Dalam
dialog terjadi karena adanya pertanyaan dari pewawancara dan
jawaban dari narasumber. Berikut adalah petunjuk penyusunan
daftar pertanyaan dalam wawancara.
a. Pertanyaan disusun berdasarkan tujuan wawancara.
b. Upayakan satu pertanyaan untuk menggali satu informasi.
c. Kalimat tanya disusun dengan singkat dan jelas.
d. Daftar pertanyaan dibicarakan dulu dengan orang yang
lebih mengerti.

3. Melakukan wawancara
Proses melakukan wawancara dilakukan dengan beberapa
tahapan. Meskipun tahapan itu bukan merupakan tahapan
baku, paling tidak tahapan-tahapan itu bisa menjadi pemandu
kalian dalam berwawancara agar bisa berhasil.
a. Pendahuluan
Pewawancara membuat janji dulu dengan narasumber,
kapan dan dimana narasumber bersedia diwawancarai.
Jangan lupa sampaikan tujuan wawancara kepada
narasumber.
b. Pembukaan
Awalilah dengan pembicaraan ringan, seperti menanyakan
kabar dan kondisi narasumber serta tunjukkan sikap yang
ramah dan bersahabat.
c. Tahap inti
Ajukan pertanyaan secara urut, singkat, dan jelas. Lakukan
perekaman selain pencatatan. Hindarilah pertanyaan yang
memojokkan atau menginterogasi.
d. Penutup
Akhiri wawancara dengan kesan yang baik dan
menyenangkan. Jangan lupa ucapkan terima kasih atas
waktu dan kesediaan narasumber diwawancarai.

4. Melaporkan hasil wawancara
Hasil wawancara dituliskan sebagai bentuk laporan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun laporan
hasil wawancara.
1. Perhatikan kaidah penulisan laporan.
2. Jangan mencampuri hasil wawancara dengan pendapat
sendiri.
3. Pilihlah data yang relevan dengan permasalahan.
4. Jaga nama baik narasumber dan bila perlu jaga kerahasiaan
identitas narasumber.