|
Kata
Tidak Baku
|
Kata
Baku
|
Arti
|
||
|
1.
|
aktiv, aktip
|
aktif
|
|
||
|
2.
|
aktifitas
|
aktivitas
|
|
||
|
3.
|
alinia
|
alinea
|
|
||
|
4.
|
al-qur’an
|
Alquran
|
|
||
|
5.
|
amphibi
|
amfibi
|
|
||
|
6.
|
anarkhi
|
anarki
|
kekacauan
|
||
|
7.
|
analisa
|
analisis
|
penjabaran sesuatu setelah dikaji sebaik-baiknya
|
||
|
8.
|
anda
|
Anda
|
|
||
|
9.
|
antri
|
antre
|
|
||
|
10.
|
anggauta
|
anggota
|
|
||
|
11.
|
apotik
|
apotek
|
|
||
|
12.
|
aquarium
|
akuarium
|
|
||
|
13.
|
azasi
|
asasi
|
|
||
|
14.
|
atmosphere
|
atmosfer
|
|
||
|
15.
|
atlit
|
atlet
|
|
||
|
16.
|
otobiografi
|
autobiografi
|
|
||
|
17.
|
ajan
|
azan
|
|
||
|
19.
|
berjoang
|
berjuang
|
|
||
|
20.
|
bis
|
bus
|
mobil penumpang ukuran besar
|
||
|
21.
|
cabe
|
cabai
|
|
||
|
22.
|
cendikiawan
|
cendekiawan
|
|
||
|
23.
|
centimeter
|
sentimeter
|
|
||
|
24.
|
cidera
|
cedera
|
|
||
|
25.
|
daptar
|
daftar
|
|
||
|
26.
|
defenisi
|
definisi
|
|
||
|
27.
|
dekrit
|
dekret
|
perintah yang dikeluarkan oleh kepala negara
|
||
|
28.
|
detil
|
detail
|
|
||
|
29.
|
diagnosa
|
diagnosis
|
|
||
|
30.
|
do’a
|
doa
|
|
||
|
31.
|
duren
|
durian
|
|
||
|
32.
|
efektiv
|
efektif
|
|
||
|
33.
|
efektifitas
|
efektivitas
|
berhasil guna
|
||
|
34.
|
efesien
|
efisien
|
tepat, sesuai untuk mengerjakan sesuatu dengan tidak
membuang-buang waktu
|
||
|
35.
|
eksim
|
eksem
|
penyakit kulit gatal-gatal
|
||
|
36.
|
ekstrim
|
ekstrem
|
fanatik
|
||
|
37.
|
elit
|
elite
|
|
||
|
38.
|
esei
|
esai
|
|
||
|
39.
|
export
|
ekspor
|
|
||
|
40.
|
faham
|
paham
|
pendapat, aliran
|
||
|
41.
|
faidah
|
faedah
|
|
||
|
42.
|
faksimil
|
faksimile
|
mesin pengirim dan penerima berita
|
||
|
43.
|
fikir
|
pikir
|
|
||
|
44.
|
formil
|
formal
|
sesuai dengan peraturan yang berlaku
|
Selasa, 08 Januari 2013
kata baku
PANTUN
Pantun
A.
Pengertian
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (2002),
pantun adalah bentuk puisi Indonesia (Melayu), tiap-tiap (kuplet) biasanya
terdiri atas empat baris yang bersajak (a-b-a-b), tiap-tiap lariknya terdiri
atas empat kata, baris pertama dan keduanya untuk tumpuan (sampiran) dan baris
ketiga dan keempat merupakan isi.
B. Ciri-Ciri Pantun
a. terdiri
atas 4 baris;
b. tiap baris terdiri atas 8 sampai dengan 10 suku kata;
c. baris pertama dan ke-2 disebut sampiran, sedangkan baris ke-3 dan ke-4 merupakan isi atau
b. tiap baris terdiri atas 8 sampai dengan 10 suku kata;
c. baris pertama dan ke-2 disebut sampiran, sedangkan baris ke-3 dan ke-4 merupakan isi atau
makna pantun;
d. sajak akhir /a-b-a-b/.
d. sajak akhir /a-b-a-b/.
B.
Menulis
Pantun
Hal yang
mesti diperhatikan dalam menulis pantun adalah rima akhir, pilihan kata, dan
logika sampiran. Rima akhirnya haruslah
ab-ab, pilihan kata yakni harus memilih kalimat dengan kata-kata yang enak
didengar. Logika maksudnya adalah pada sampiran, larik pertama dan kedua harus
saling berkaitan. Hal ini yang sekarang diabaikan para penulis pantun. Mereka
asal-asalan saja, yang penting untuk baris pertama dan kedua ini nanti bisa
mengantarkan kepada baris ketiga dan keempat.
Perhatikan contoh berikut!
Memandang langit ke ufuk barat
Tampak Sang mentari bersinar redup
Masa telah mendekat kiamat
Banyaklah mengumpul bekal dalam hidup
unsur unsur cerpen
Unsur-Unsur Intrinsik Cerpen/Novel
Unsur intrinsik ialah
unsur/bagian yang membentuk sebuah cerita (cerpen/novel). Unsur-unsur intrinsik
tersebut adalah: tema, alur, penokohan, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan
amanat.
A.
Penokohan
1. Pengertian
Penokohan sering juga disebut perwatakan, yaitu pelukisan mengenai
tokoh cerita. Pelukisan ini mencakup keadaan lahir dan batin tokoh. Keadaan
lahir merupakan bentuk jasad tokoh, keadaan batin mencakupi pandangan hidup tokoh, sikap tokoh, keyakinan, dan adat istiadat.
2.
Teknik Penokohan
Dalam menggambarkan
watak tokoh pengarang menggunakan dua cara yaitu (1)penggambaran langsung dan (2)penggambaran tidak langsung.
(1) Penggambaran Langsung
Dikatakan penggambaran langsung karena penulis langsung
menyatakan watak tokoh; pembaca tidak perlu lagi menafsirkan.
Contoh:
a. Bangkuro
lelaki yang tampan. Jejak ketampanannya tampak jelas menutupi garis-garis
ketuaannya. Ia sangat disayangi rakyatnya. Di
balik kekerasan watak dan pembawaannya tersimpan hati yang sangat penyayang.
Hutan di mana mereka bermukim sangat dijaga oleh Bangkuro dengan berbagai
peraturan. Tidak ada yang boleh dirusak dan diganggu jika tidak dibutuhkan.
Hewan buruan ditangkap sekedar untuk dimakan, bukan untuk kesenangan. Ia pun
menggalakkan bercocok tanam kepada rakyatnya. Bukan hanya menggantungkan hidup kepada
alam seperti yang selama ini mereka lakukan.
Jurang
Perdamaian, Abu Syuhada
Watak tokoh ”Bangkuro” dalam
penggalan cerita di atas adalah berwatak keras dan hatinya penyayang.
b.
Badannya sedang, tak gemuk dan tak
kurus, tetapi tegap. Pada wajah mukanya yang jernih dan tenang, berbayang,
bahwa ia seorang yang lurus, tetapi keras
hati; tak mudah dibantah, barang sesuatu maksudnya. Menilik pakaian dan
rumah sekolahnya, nyata ia anak seorang yang mampu dan tertib sopannya,
menyatakan ia anak seorang yang berbangsa tinggi.
Siti Nurbaya, Marah Rusli
Watak tokoh ”ia” dalam penggalan cerita di atas adalah
lurus (jujur) dan keras hati.
(2) Penggambaran
Tidak Langsung
Penggambaran watak tokoh secara tak
langsung maksudnya pembaca menafsirkan sendiri watak tokoh. Watak tokoh
ditafsirkan berdasarkan: (1) fisik tokoh, (2) dialog antartokoh, (3) tanggapan
tokoh lain, (4) lingkungan tokoh, (5) tindakan/perbuatan tokoh, (6) pikiran
tokoh.
a. Dialog antartokoh
Yaitu pembaca dapat mengetahui watak tokoh dari pembicaraan tokoh dengan
orang lain. Bagaimana tokoh itu berbicara, apa isi pembicaraannya dengan tokoh
lain, menggambarkan watak si tokoh.
Contoh:
”Aku tidak peduli! Pokoknya hari ini, malam ini, detik
ini juga kalian angkat kaki dari rumah ini!” Sang juragan menatap Adi dan
ibunya dengan mata penuh api.
”Juragan, kasihanilah kami. Beri
waktu seminggu lagi, kami akan segera lunasi uang kontrakan,” ibu memandang sang juragan dengan air mata
berlinang.
Dari penggalan
cerita di atas, dari apa yang ia ucapkan kita tahu sang juragan adalah seorang
yang berwatak bengis dan tak punya rasa kemanusiaan.
b. Tanggapan (ucapan) tokoh lain
Yaitu pembaca dapat mengetahui watak tokoh
dari tanggapan yang dilontarkan oleh tokoh lain dalam cerita.
Contoh:
”Ada masalah apa
antara kau dan Leni, Meri?” tanya Mak suatu malam.
”Itulah,
Mak. Aku memang tak senang dengan dia. Dia tak bisa menyimpan rahasia. Mulutnya
ember, bocor, tak ada remnya. Aku sudah bilang, tolong jangan cerita pada orang
lain. Eh, barus sehari udah banyak orang yang tahu.”
Dari penggalan cerita
di atas, berdasarkan ucapan Meri, watak Leni adalah tidak bisa menyimpan
rahasia.
c. Perbuatan tokoh
Yaitu pembaca bisa menentukan watak tokoh dari apa yang dilakukan tokoh
tersebut.
Contoh:
Lelaki itu
sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali
untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli
bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor
tidak perlu diragukan. Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya
sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang
ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili
mereka,melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan
bercanda mesra..
Rafli
percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
Watak Rafli adalah
setia kepada istrinya.
d. Pikiran tokoh
Yaitu pembaca bisa menentukan watak tokoh dari apa yang dipikirkan tokoh
tersebut.
Contoh:
Sampai jauh
malam Iyen masih terjaga. Ia terus menguatkan hati. Ia tak boleh merasa lemah
oleh masalah dan kesulitan. Ia harus terus melangkah maju. Kehidupan serba sulit yang saat ini
ditanggungkan keluarganya harus ia ubah. Iyen yakin, dengan cara sekolah
setinggi-tingginya kemiskinan yang membalut keluarganya bisa ia lawan.
Watak Iyen yang tidak suka berputus asa tergambar dari
pikiran tokoh Iyen di atas.
membaca ekstensif
Membaca Ekstensif
Membaca
ekstensif berarti
membaca
secara luas. Anda
harus
membaca sebanyakbanyaknya
bacaan
yang bertema
sama
(sejenis) dalam
waktu
sesingkat-singkatnya.
Kegiatan
membaca ekstensif
bertujuan
untuk memahami
pokok-pokok
pikiran bacaan
dengan
cepat.
Informasi
adalah kabar
atau
berita tentang sesuatu. Halhal
yang
perlu diperhatikan
dalam
menemukan informasi
seperti
uraian berikut ini.
1.
Siapa yang diberitakan?
2.
Peristiwa apa yang diberitakan?
3.
Di mana tempat peristiwa
terjadi?
4.
Kapan peristiwa terjadi?
5.
Mengapa peristiwa terjadi?
6.
Bagaimana peristiwa
terjadi?
Cara
Membaca Ekstensif
Anda
dapat membaca ekstensif dengan langkah-langkah berikut
ini.
1.
Mengumpulkan bahan bacaan sejenis dari berbagai atau
beberapa
sumber. Anda dapat mencari dari media massa
cetak
atau elektronik.
2.
Membaca sekilas judul bacaan tersebut.
3.
Membaca satu demi satu setiap bacaan (artikel atau berita)
yang
sudah Anda kumpulkan. Lakukan dengan cara
skimming. Artinya, Anda tidak perlu membaca
keseluruhan
bacaan.
4.
Mencatat atau memberi tanda pada hal-hal pokok bacaan
sambil
membaca.
Membaca
skimming dapat dilakukan dengan cara mata
bergerak
pada baris-baris pertama atau terakhir yang
mengandung
ide pokok paragraf. Kemudian, gerakan mata
melompat
dan berhenti pada beberapa fakta, detail tertentu
yang
penting, dan menunjang ide pokok.
5.
Meneliti secara sekilas petunjuk-petunjuk lain mengenai
informasi
yang dibicarakan dalam bacaan tersebut.
Ada
beberapa hal yang bisa dicari dengan membaca ekstensif.
1.
Mencari persamaan dan perbedaan informasi dalam beberapa
bacaan
yang bertopik atau bertema sama.
2.
Memecahkan masalah berdasarkan bahan lebih dari satu.
3.
Menentukan gambaran umum bacaan. Gambaran umum
bacaan merupakan isi bacaan.
Langganan:
Postingan (Atom)